Kerajaan-Kerajaan Di Indonesia II Edisi Singasari Dan Majapahit

A. KERAJAAN SINGASARI
Riwayat dan pemerintahan Ken Arok serta raja-raja Singasari terdapat dalam buku Pararaton dan Negarakertagama.
Raja-raja yang memerintahnya adalah:
1. Ken Arok
Ia menjadi raja Singasari setelah membunuh Tumapel Tunggul Ametung dan menaklukkan Kerajaan Kediri pada tahun 1222 di Ganter. ken Arok adalah pendiri dan raja pertama di Singasari yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, kemudian keturunannya terkenal dengan sebutan Wangsa Rajasa.
2. Anusapati (anak dari Tunggul Ametung- Ken Dedes)
Anusapati menjadi raja setelah membunuh Ken Arok yang merupakan ayah tirinya dengan menyuruh seorang pengalasan atau budak.
3. Tohjaya (anak dari Ken Arok- Ken Umang)
Tohjaya menjadi raja setelah membunuh Anusapati. Pada tahun 1248 timbul pemberontakan yang dilancarkan oleh Ranggawuni anaknya Anusapati dan Mahisa Campaka anaknya Mahisa Wongateleng atau cucu dari Ken Arok dan Ken Dedes.
4. Ranggawuni
Ia bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana memerintah Singasari bersama dengan Mahisa Campaka sebagai Ratu Anggabaya, yaitu pejabat tinggi yang bertugas menanggulangi bahaya yang mengancam kerajaan, gelarnya adalah Narasinghamurti.
5. Kertanegara
Ia bergelar Srimaharajadhiraja Sri Kartanegara (1269-1292), merupakan raja Singasari yang terbesar. Pada tahun 1275 ia mengirim ekspidisi Pamalayu. Daerah-daerah yang ditaklukkannya antara lain Bali, Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat Daya) dan Gurun (Maluku) serta mengadakan hubungan persahabatan dengan Jaya Singawarman, Raja Campa. Namun pada tahun 1292 Kertanegara ditaklukkan oleh Jaya Katwang dari Kerajaan Kediri.

B. KERAJAAN MAJAPAHIT
a. Kertarajasa Jayawardhana (1292-1309)
Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya anak dari Lembu Tal atau cucu Mahisa Campaka. Pada tahun 1292 setelah memperdayai bala tentara Kubilai Khan dari Cina yang bermaksud menghukum Raja Jawa yang telah menghina utusannya yaitu Meng ki pada masa pemerintahan Kertanegara di Singasari.
Karena Kertanegara telah dihancurkan oleh Jaya Katwang dari Kediri, maka bala tentara Kubilai Khan menghancurkan Kediri, yang selanjutnya atas siasat Raden Wijaya yang dibantu oleh Arya Wiraraja, bala tentara Cina dapat dihancurkan oleh Raden Wijaya. Akhirnya Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarejasa Jayawardhana.
Raden Wijaya memperistri 4 orang putri Kertanegara yaitu:
1. Tribuana, sebagai permaisuri.
2. Gayatri, yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit.
3. Narendraduhita.
4. Prajnaparamita
Pada tahun 1309 Raja Kertarajasa wafat, meninggalkan tiga orang putera yaitu:
1. Jayanegara, dari Permaisuri.
2. Sri Gitarya, dari Gayatri yang kemudian menjadi Bhre Kahuripan.
3. Dyah Wiyat, dari Gayatri yang kemudian menjadi Dhre Daha.

b. Sri Jayanegara 1309- 1329
Jayanegara menggantikan ayahandanya dengan gelar Sri Jaya-negara. Pada masa pemerintahannya timbul pemberontakan yaitu, pemberontakan Ranggalawe dari Tuban, pemberontakan Sora pada tahun 1311, pemberontakan Nambi pada tahun 1316 dan pemberontakan Kuti pada tahun 1319.
Ibukota Majapahit berhasil diduduki dan raja Jayanegara mengungsi ke Desa Bedander dikawal oleh 15 orang pengawal setia (pasukan Bhayangkari) di bawah pimpinan Gajah Mada. Atas usaha Gajah Mada ibukota dapat direbut lagi dan Jayanegara kembali bertakhta. Atas jasanya Gajah Mada diangkat menjadi Patih Kahuripan dan kemudian Kediri.
Dalam pemerintahannya Raja Jayanegara menggunakan Lambang Minadwaya (dua ekor ikan).

c. Tribhuwana Tunggadewi 1328-1350
Pada saat wafatnya, Jayanegara tidak meninggalkan putra, maka Gayatri atau Rajapatni berhak menjadi raja. Karena Gayatri telah menjadi bhiksuni (pendeta agama Buddha), maka diwakilkan kepada Sri Gitarya, Bhre Kahuripan yang bergelar Tribuana Tunggadewi Jayawisnuwardhana.
Pada saat pemerintahan Tribuwana ini timbul pemberontakan Sadeng, yang dapat dipadamkan oleh Gajah Mada, karena Jasanya itu pada tahun 1331 Gajah Mada pun diangkat menjadi perdana menteri yang pada saat pelantikannya mengucapkan Sumpah Palapa.
Pada tahun 1350 Gayatri atau Rajapatni wafat, Tribuwana yang mewakilinya menyerahkan kekuasaanya pada anaknya yang bernama Hayam Wuruk.

d. Rajasanegara 1350-1389.
Hayam Wuruk naik tahta pada usia 16 tahun, bergelar Rajasa-negara, merupakan Raja terbesar dalam sejarah Majapahit dengan Gajah Mada sebagai Mahapatìh. Kekuasaannya meliputi seluruh Kepulauan Nusantara, bahkan masih ditambah dengan Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu.
Karya sastra pada jaman pemerintahan Hayam Wuruk adalah Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan Sutasoma atau Parusadashanta serta Arjunawijaya karya Mpu Tantular.
Pada tahun 1364 Gajah Mada wafat, kedudukanya diganti oleh 4 orang menteri. Dan pada tahun 1389 Hayam Wuruk pun wafat.

e. Wikramawardhana 1389-1429.
Hayam Wuruk dengan permaisurinya hanya mempunyai seorang putri yaitu Kusumawardhani, yang selanjutnya memerintah bersama suaminya Wikramawardhana. Banyak gejolak di era ini, dari perang saudara, daerah2 yg lepas, dan berakhir dengan raja terakhirnya Kertabumi.